Biaya Produksi SMS inter-koneksi hanya Rp.75,-
November 27, 2007 by winatapranata
Saya sangat terkejut ketika membaca bahwa biaya produksi SMS hanya Rp.75,-. Itupun untuk biaya produksi interkoneksi antar operator (dan mungkin biaya produksinya lebih rendah dari itu). Sedangkan untuk biaya sesama operator hampir/nyaris tidak ada biaya (nol rupiah).
Berarti bila biaya SMS yang dibebankan kepada pelanggan sebesar Rp.350,-, berarti keuntungan operator lebih dari 350%. Ini pendapatan operator hanya dari SMS saja.
Berarti bukan hal yang aneh bila sekarang operator baru memiliki tarif yang jauh lebih kecil dari operator lama. Kita mungkin kadang berpikir “Apa ga rugi tuh operator!” karena ternyata pikiran kita selama ini terfokus pada “Harga SMS memang sudah sepantasnya 350”. Nah, yang benar ternyata harga SMS itu harga yang ditawarkan oleh operator baru. Harga SMS yang diberlakukan oleh operator lama sudah tidak relevan lagi. Dan faktanya pendapatan operator dari SMS cukup besar, yaitu sebesar 30%-40%.
Sekarang kita coba-coba menghitung, jika ada pengguna nomor HP sejumlah 60 juta dan setengah dari jumlah nomor HP (30 juta) mengirimkan satu (1) SMS setiap hari.
Maka keuntungan operator tiap harinya:
= 30.000.000 * (350-75) = 8.250.000.000 / hari
Luar biasa sekali angka 8,25miliar/hari ini, Apalagi kalau kita menghitung per tahun:
= 8.250.000.000 * 365 = 3.011.250.000.000 / tahun
Bisa dilihat, ini bukan jumlah yang main-main, mencapai 3triliun/tahun.Dan, perhitungan di atas berdasarkan antar operator, apalagi bila SMS silakukan sesama operator (yang biayanya nyaris tidak ada), keuntungan operator bakal menjadi lebih besar lagi.
Tidak aneh pendapatan tiap operator besar di Indonesia mencapai triliun-an rupiah pertahunnya.
Beberapa operator besar dalam beberapa tahun belakangan menurunkan harga SMS (walaupun tidak berarti) dan memberikan bonus SMS sesama operator (yang sekali lagi: biayanya nyaris tidak ada). Disinyalir tindakan beberapa operator besar tersebut dikarenakan operator baru yang berani memasang tarif ‘murah’, karena kecil kemungkinan operator mau memangkas tarifnya padahal pelanggan tenang-tenang saja (tidak peduli akan pemasangan tarif yang sudah TIDAK RELEVAN).
Operator juga menghindar dari kewajiban yang diharuskan oleh pemerintah, seperti kewajiban membangun telepon umum. Mereka beralasan sudah tidak ‘zaman’ lagi memakai telepon umum. Yang lebih lucunya mereka tetap memasang harga yang sudah tidak ‘zaman’. Ada yang nge-les: “Kami harus terus membangun tower untuk mengembangkan coverage jaringan.” Harga tower yang berkisar 1-2M, menurut hitungan di atas 4 tower dapat ditutupi dari pendapatan SMS yang ‘mahal’ hanya dalam 1 hari. Kemudian mereka dapat berkata:”Kami tidak hanya membangun puluhan tower tapi ribuan tower”. Itu kan dikarenakan mereka tidak mau menggunakan sistem tower bersama sehingga banyak tower2 yang tumpang tindih di dalam satu area. Mereka juga tidak belum ‘berani’ menggunakan opsi berganti operator tanpa berganti nomor HP (mungkin takut merasa dirugikan, padahal kalau kualitas dan harga ok, siapa yang mau gonta-ganti operator).
Operator memang harus menangguk untung, tetapi untung yang ‘RELEVAN’, tanpa merugikan konsumen. Saya kira harga SMS antar operator Rp.150,- s/d Rp.175,- cukup pantas, dan sesama operator bisa lebih murah lagi. Jadi, jangan sampai hanya ada satupihak yang diuntungkan, sementara pihak yang lain dirugikan.
Oleh karena itu, ada pesan penting yang ingin saya sampaikan untuk para pengguna nomor HP:
It’s about EDUCATION
Source: Tabloid PULSA
Yang bagus dong win bikin webnya
Lu di proyek ga ada kerjaan ya sampe sempet bikin weblog segala?
Hehe..oia upload mp3 dong biar gue bisa download sekalian.
[...] perhitunganku begini: Dana yang dibutuhkan: Rp. 145.000.000.000,- Tarif SMS: Rp. 5.000,- Biaya operasional SMS: Rp. 150,- (karena ada sms balesan ucapan terima kasih sekaligus nomor registrasi). Margin [...]
Buat adhe:
ya namany jg pemula, makin lama kan ntar bisa makin bagus.
g buat ini pas lagi senggang, banyak kerjaan-lah g.
cm buat bagi2 info.
mp3 klo dah bnnyk request ya.
Btw, thx comment-ny.
Emang kalo di negara maju, komunikasi tuh murah banget. Dan yang nelepon hanya yang merasa berkepentingan untuk menggunakannya. Kalo di sini sih, asal biaya murah langsung telepon2an buat yang ga penting, kayak pacaran, yang nayatanya ngabisin quota bandwidth BTS. F! makanya sekarang saya cukup kesal dengan pesan conn err atau net busy. S! Kalo di negara orang (kagak tau yang negara mana), kalo ada cowo ga nelepon cewe, hanya bisa ada 1 alasan, yaitu emang kagak mau nelepon dan tidak punya ketertarikan khusus (dalam hal PDKT). Kalo di sini, bisa di counter dengan jawaban “ga ada pulsa”, dlsbg. Nah keliatan kan bedanya. BTS ada di mana2, tapi koneksi yang diegmbor2kan tidak tercapai (3.5G/3G tapi dalam beberapa daerah jadi cuma GSM doang). Perlu di beritahukan, kecepatan koneksi 3G itu 384kbps, jika ada 8 bit dalam 1 byte maka ada sekitar 48kBytes/s. FYI, bit for transfer speed, byte for capacity, CMIIW, biasanya itu juga. Nah kalo dalam kendaraan berjalan kecepatan 3G bisa cuman ampe 128 kbps, tapi biasanya nyatanya kecepatannya di ruang diam cuman ampe 56kbps. Lagipula, karena dikirimkan data per paket, ga nyampe segitu kok. Ah, babi deh, kalo lama2 iing ngasih comment di sini bisa skeptis apatis depresi akut sendirian nih udah ah. ciao. (^_^)
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Parameters
.